Powered By Blogger

Jumat, 29 Maret 2024

Judulnya apa?

 

Gundah Gulana Resah tak terkira. 

Ketakutan menjelma menjadi prahara saat malam tiba. 


Dipenghujung jalan kulihat secercah harapan. 

Datang membawa kehangatan. 


Akankah ini bertahan atau hancur lebur bersama puing puing kenangan. 


Entahlah. Saat ini aku menikmati, menggilai dan mengamini semua yg ada di dirimu, Wian.


Semoga kau bisa bertahan.

Panjang umur harapan dan kasih sayang. 


Disclaimer

Puisi ini dibuat dengan paksaan dan tekanan dri pihak yang bersangkutan. 


Kopeng, 4 Maret 2024.

Salam hangat, 


Enji

Sabtu, 20 Januari 2024

Aku masih ada


Aku pernah kalah
Aku pernah marah
Aku pernah hilang arah
Aku sempat musnah

Aku berjalan tanpa teman
Aku berjalan tanpa tujuan
Aku berjalan tanpa nyawa
Aku hanya daging tanpa hati

Aku sudah pergi
Aku sudah tak berarti
Aku sudah mati
Aku tak ingin kembali

Aku masih ada kesempatan
Aku masih ada masa depan
Aku masih ada harapan
Aku masih ada


Kamis, 18 Juli 2019

Refleksi diri

Selalu, disaat mata belum memejam, kuteringat semua hal yang terjadi sepanjang hari ini.
Jarang, akhir akhir ini aku mengingat hal hal bahagia, karena memang aku tidak.
Sering, yang kuingat adalah hal hal buruk yang yang terjadi, bahkan yang aku lakukan sendiri.
Kadang, kepada rekan kerja, atasan, bahkan Tuhan.

Pernah, suatu hari sebelum jam kerja usai, ku tak sengaja menginjak lantai yang barusan di pel oleh petugas, aku tersenyum bermaksud maaf tersungging, namun sang petugas menjatuhkan tongkat pel kecewa, dan berlalu. aku sadar, aku salah, aku selalu sadar betapa berat harinya membersihkan lantai yg sebentar di pel sebentar kotor diinjak konsumen, tiap hari bergumul dengan sampah yg bukan miliknya. Betapa berat hari harinya dituntut area tanggung jawabnya selalu sempurna, namun yang didapat tak setara. Betapa ia memikirkan keluarganya makan apa esok lusa. Maka bisa kutahan amarahku untuk membalas bantingan tongkat pelnya. Kudatangi ia, menjabat tangannya dan meminta maaf hingga ia balik menyunggingkan senyumnya. Aku pun lega.

Beberapa kali, ku tak sepemahaman dengan atasan, karna kuanggap mereka hanya memerintah, sembari menikmati hasil jerih payah bawahannya yang tiap hari mengecek tanggal habis kontrak. Setiap kebijakan yang berpotensi merugikan kaumku, kutebas habis, kadang dengan sikap garang dan sok membela yang lemah kumelawan. Namun aku sering menyesal seperti malam ini, karena terkadang ku kelewat batas dan cenderung menyakiti hati. Ia atasanku juga hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh atasannya lagi. Besok pasti suasana sudah seperti biasa lagi karena sisi baik atasanku ini memang tidak mendendam, setidaknya begitu yang ia perlihatkan. Namun hatiku sendirilah yang terkoyak, dengan penyesalan atas kelakuanku yang terkadang arogan dan mau menang sendiri. Saat di kantor, aku ingin terlihat sangar, garang, idealis dan pejuang, namun saat malam seperti ini, di kamar kos sunyi ini, aku hanyalah bocah kecil yang bertanya tanya, apakah aku orang baik? Apakah aku jahat? Apakah aku sudah menjadi manusia? Labil, Mungkin label itu cocok disematkan di diriku. Aku lemah saat sendiri, aku tak yakin, aku insecure. Keinsecure-an ku ini mungkin yang membuat aku merasa harus terlihat kuat di lingkungan pekerjaan. Sok kuat diluar padahal lembek dan rapuh didalamnya. Dasar aku.

Suatu kali, bahkan aku sangat arogan kepada Tuhan, aku mempertanyakan, apakah hidup ini adil ya Tuhan? Lihat saja adik kecil di tepi jalan itu, usia sekitar tiga, menjajakan koran untuk bisa bertahan hidup sehari lagi dimuka bumi. Lalu lihat di dalam mobil Alphard yg berhenti tepat didepannya, ada bocah usia lima yang mendapatkan segala apa yang dimintanya bahkan yang tak ia minta. Bersama sopir pribadi dan pengasuhnya, iapun bahagia karena ditemani pula oleh ayah ibunya yang sangat menyayanginya, bahagia dan sempurna. Sedang anak jalanan berusia tiga, kita tak tahu apa ibunya masih ada atau ia sebatang kara. Nasib manusia tidak bisa dipilah pilih, aku yang karyawan biasa mana bisa mengubah nasib anak yang kulihat ditepi jalan itu. Paling cuma bisa beli korannya dua.  

Tuhan, maafkan aku yang sering marah dan protes melihat ketidak adilan, bahkan aku lancang memprotesmu. Namun Aku tau pasti, bahwa kebijaksanaanMu melebihi akalku. Maka untuk membenahi diriku sendiri, kuanggap semua kejadian yang kualami seharian ini adalah caraMu berkomunikasi dengan ciptaanMu, supaya aku melihat, supaya aku memahami, supaya aku sadar bahwa ketidak adilan akan selalu ada, Namun dibalik itu semua, carilah kesempatan untuk mengakui kekurangan diri, mengambil pelajaran, mengevaluasi dan berbuat yang lebih benar dikemudian hari. Karena manusia harus terlebih dahulu adil kepada diri sendiri. 


WIAN ANGGONO
18 Juli 2019

Rabu, 20 Maret 2019

Tuesday, March 19 2019, 23:37

Hello orang orang,

Aku capek, tapi gak bisa tidur. Aku mau nulis aja, tanpa konsep, biar mengalir aja, siapa tau aku ketiduran.

Kesibukanku sama kerjaan buatku terjebak diantara rasa capek dan rasa bosan. Hasilnya, tubuh pengen istirahat, tapi otak gak mau kerjasama, kebosanan membuat otakku liar. mikir kesana kemari jadinya gak tidur tidur.

Di segara pikirku tersebar jutaan angan dan pertanyaan, mungkin milyaran, yang tidak terkonsep, liar, terkadang bahkan aku sendiri kaget dengan apa yg kupikirkan. seperti misalnya aku pernah ngobrol dengan diriku sendiri di alam otakku.

Aku: "Hey Minime, pernahkah kamu berpikir, bahwa Bumi ini spesial sekali, satu bongkah batu angkasa yang bisa menghidupi berbagai makhluk. Dengan komposisi yang begitu pas antara air, udara, api, mineral dan segala zat yang terkandung didalamnya saling menyokong dan bersinergi secara seimbang menjadi tempat yang sempurna memungkinkan untuk makhluk makhluk bisa hidup di dalamnya, di permukaannya. Apakah ini kebetulan?"

Aku yg lain: "ha?"

Aku: "sedangkan jika kita tengok planet planet lain yg terdekat yg mampu manusia eksplore dengan segala keterbatasannya, gak ada yg sesempurna Bumi. Mendekati pun tidak. Apakah se spesial itu planet ini? Ada gak ya kira kira di luar sana, di luasnya tata surya, dengan pengetahuan manusia saat ini yg masih terbatas belum bisa menjangkaunya, planet lain yg bisa mengayomi makhluk makhluk seperti ibu pertiwi?"

Aku yang lain: "emmm..."

Aku: "aahh.. maaf, lagi lagi mikirku kejauhan. Aku sadar Minime, aku bukan siapa siapa, apakah aku berhak memikirkan hal seluas itupun aku tak tahu.. sebab aku bukan siapa siapa, aku yang berilmu rendah, bahkan pelajaran Matematika SMP tentang Aljabar dan Persamaan Linear pun ku sudah lupa, jika sekarang dikasih soal, pastilah tak bisa kukerjakan.."

Aku yang lain: "hmmm, iya"

Aku: "tapi boleh kan aku berpikir sejauh demikian di dalam segara pikirku sendiri, diruang pribadi ini didalam otakku sendiri, hanya denganmu minime? Yang penting tidak mengganggu orang lain"

Aku yang lain: "ya boleh aja sih, tapi, apa itu penting? Apa itu berguna bagi hidupmu yang nyata nyata ada dekat disini, yang hanya seorang buruh kecapekan susah tidur, yang selalu bingung besok sarapan pake apa?"

Aku: "nah itu yg tadi kutanyakan, kan? Apa aku berhak berpikiran seluas itu? Tapi melihat pendapatmu, aku ngerasa kaya ditarik kembali ke daratan. Yang tadinya seperti melayang layang kejauhan. Aku tersentak dan tersadar. Hidupku tidak signifikan jika dibanding dengan agungnya semesta. Hidupku cuma sebentar di Bumi pertiwi ini, apa yg bisa aku lakukan agar setidaknya bisa sedikit bermanfaat bagi semesta?"

Aku yang lain: "Cobalah berbuat baik pada semuanya, tidak perlu sekaligus, cukup dari yang terkecil dan terdekat. Berbuat baiklah dirimu sendiri dulu, pikirkan kesehatanmu, pikirkan kewarasanmu, pikirkan dulu dirimu, perbaiki satu satu, baik fisik dan psikismu. Ayo kita mulai dengan besok mau sarapan apa?"

Aku: "ih, iya kamu benar. Intinya berarti semua sesuai kapasitas nya masing2 dulu ya Me? Kalo mampumu segini yaudah nerimo aja itu diperbaiki sampai baik banget, nanti pasti akan meningkat sendiri levelnya. Gitu kan?"

Aku yg lain: "nah..!! Kui lo maksudnya aku... jadi besok mau sarapan apa...?"

Aku: "Tadi aku udah beli roti sobek di Alfamart, susu UHT yg kemarin juga masih. Jadi aman kan me?"

Aku yg lain: "good... my self, gitu donk.. jgn diulangi ya kesalahan kmrn dan tadi pagi yang lupa sarapan. Kamu boleh sibuk, kamu boleh ngayal sejauh apapun, tapi kamu harus sehat, kalo kamu mati? Sayang donk, gak bisa naik ke level selanjutnya donk untuk berpikir lebih luas lagi. wong waktumu di Bumi cuma sebentar.

Aku: "woiyo apik tenan, berarti saiki aku harus tidur Minime. Aku sayang kamu.. bye.."

Wednesday, March 20th 2019, 00:03




Selasa, 15 Mei 2018

Well, Im back motherf%#*er..

Hari ini aku libur kerja. kayak biasa, aku cuma ngisi waktu libur di kos dengan nyuci baju, tiduran, main HP garuk2 *#$^ hahahhaha..

Pas iseng buka2 google, sudut mataku gak sengaja ngeliat ada bookmark blogger. Yang sudah entah berapa tahun gak kusentuh...

Well, I'm back MotherFather.. hahahahah.. iseng dan gabut mulai deh pengen nulis lagi. Baiklah.. blog terakhir yang kutulis itu bulan Juni 2017. Setahun yang lalu.. (oh iua, itu pas lagi galau2nya bingung sama kerjaan baru. Jadi nulis puisi buat curhat) tapi sebelum itu terakhir kutulis personal blog itu tahun 2013. Woooww.. tentu banyak bgt perubahan dan perkembangan(?) dalam hidupku yaahh? Well.. ntar gua critain deh.

Mulai dari karir yah, terakhir tahun 2013 saat aktif ngeblog itu aku masih berstatus mahasiswa jurusan English and Literature di UKSW tercinta. Lulus dari situ aku udah kerja di 5 perusahaan berbeda mulai dari ug kecil sampe yg gede, mulai dari bidang pendidikan, transportasi, sampai sekarang nyangkut di perusahaan retail. Bah gak nyambung amat yak sama gelarnya..? Ahahhaha

Jadi aku tu abis lulus, nyari2 kerja kemana2 gak dapet2 sambil ngelesin2 part time gitu di salah satu lembaga pendidikan. Akhirnya setelah nunggu bulanan, aku diterima kerja di salah satu perusahaan transportasi negara sebagai karyawan kontrak, yaahh.. kontrak memang menyakitkan. Tapi gak papa, aku bersyukur atas pengalaman yg kidapat disana. setelah 2 tahun aku habis kontrak akhirnya aku dapet kerjaan di Surabaya, disono aku kerja sebagai guru les, karena mungkin gak cocok dan gak kerasan juga, aku akhirnya memutuskan untuk pulang ke Salatiga. Nganggur lagi deh.. gak lama aku akhirnya aku coba ngajar jadi guru SMP Swasta.. asik juga sih, bisa punya power gitu di kelas dan bisa berkreatif2 bikin materi ngajar yg gaul dan up to date. Tapi akhirnya aku tinggalkan SMP itu karena dpt tawaran kerja di salah satu perusahaan retail yg cukup besar berbasis di jawa barat. Aku ditempatkan di ketanggungan. ,(kalo gak tau lu bisa cari di gugelmap). Dan saya sudah setahun kerja disini. Nyaman kerja disini, byk ilmu yg didapat dan rekan2 kerja yg asyik bikin gua betah di tempat antah berantah ini (maaf warga ketanggungan, gak bisa nemu adjective lain untuk menggambarkan ketanggungan. Hehhehehe)

Lalu masalah Cinta, wahahhaha.. ini nih yang ditunggu2.... (eh iya gak sih...?😂)
Jadi setelah lulus, aku sempat pacaran serius dengan seorang adik angkatan. Yah tapi memang jodoh berkata lain, aku putus saat aku long distance di Surabaya. Memang kata org bener juga sih, jarak jauh itu kejam... trus sempet deket dg berbagai macam tipe wanita, mulai dari cewek solikhah, cewek tomboy, ada juga cewek indie, trus ada cewek baik2 polos banget (sampe gua kasian sendiri) tapi belum ada aja yg sreg di hati. Akhir2 ini gua lg deket sama cewek unyu kawaii gitu, dia emg suka jejepangan dan sempet ikut2an girlband2an gitu. Wahahahaha.. lucu deh pokoknya.. imut, rame, cute, warna warni gitu.. tapi masih deket aja sih.. belum apa apa.. yah jalanin aja dulu dan doain aja yg terbaik deh yah netizen.

Kayaknya cukup deh yaah. Udh ngantuk bgt nih.. maaf udah cerita random banget di blog ini.. intinya aku pengen nulis lagi deh untuk pelampiasan kesibukan kerja gua.. daripada scroll2 IG apa line today, mending escapenya yg beginian.. produktif, yaahh walaupun masih tetep konsisten dengan konten gak bermutu.. wahahhahaha... Well Im back MotherFather...

Minggu, 25 Juni 2017

The Path Thy Embrace

The tiny seed bloomed, so white and crude
Abundant of utopias, I cherished upon the root
Growing abstraction, hankering disposition
The tiny seed ameliorated, Thine dream cultivated

The paths were branching as the agony wrenching
The paths thy embrace came to the path thy neglected
Dont be too chimerical, because thy need to think more logical.
The path comes to the onliest, afterall thou needs to fight to the fullest


Wian Anggono, 772017

Rabu, 02 Oktober 2013

surat tilang slip biru malah bikin jadi ribet


Kamu pasti pernah ketilang sama polisi kan di jalan? Kalau belum, ya bagus deh, jangan sampai ketilang, serius! Sumpah!  Banyak yang bilang kalau  misalnya kamu diberhentikan dan kena tilang polisi di jalan, minta aja slip biru. Slip biru artinya mengakui kesalahan kamu dan bersedia membayar denda di bank bri. Tapi, apa benar prakteknya akan semudah itu? Nah, ini nih pengalamanku waktu kena tilang dan meminta slip biru serta prosedur pembayarannya.

Waktu itu di pertengahan september aku kena tilang di daerah banyumanik semarang. Aku sama temenku yang nebeng waktu itu mau ikut tes buat masuk sebuah perusahaan di daerah semarang. Kita jalannya santai aja, gak kenceng dan selalu berusaha mematuhi setiap rambu lalu lintas. Sial neraka bener singkat cerita udah ada polisi nangkring di atas motor yang nungguin di pinggir jalan di depanku, merasa gak bersalah, aku ngeloyor aja dengan tampang yang aku imut imutin. Ternyata aku dikejar sama satu polisi berperut gendut dan diberhentikan. Wah bingung donk aku, wong aku merasa gak ngelakuin salah apa apa. Pak polisi gendut itu entah kenapa nuduh aku ngelanggar lampu merah sambil marah marah dan maki maki gitu dengan tampang sok diserem seremin. Jujur dan sadar banget nih, waktu itu aku gak merasa ngelanggar lampu merah. Kalo gak percaya, tanya aja sama temenku yang tak boncengin. Setelah itu surat surat diminta dan kita digiring ke pos polisi. 

Di dalam pos polisi aku merasa di intimidasi banget ada dua polisi gendut yang ngomongnya pake marah marah bernada tinggi. Aku pun dengan sok tenang bilang "santai aja to pak, gak usah marah marah, saya juga ngomongnya baik baik kok." setelah aku ngomong gitu, baru si pak polisi berdua itu agak sedikit ramah, tapi tetep nyebelin sih tampangnya. Kayaknya itu memang cara oknum polisi itu supaya kita merasa bersalah. Nah di pos polisi itu aku terpaksa memutuskan untuk mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak saya lakukan dan meminta surat tilang slip biru. Pak polisi itu agak gak setuju dan menakut nakuti kalau pake slip biru nanti harus bayar sebesar denda maksimal rp 500.000. “atau kalau pengen gak ribet kamu bisa ‘sidang ditempat’, nanti kamu kasih saya berapa terus saya lepasin.” Kata pak polisi satunya.

Pak polisi itu pun menekan saya supaya mau bayar di tempat, supaya gak ribet katanya. Tapi saya bersikeras, “wah gak mau saya pak, mending uang saya buat bayar negara aja. Gak apa apa 500.000 juga.” Setelah itu STNK saya di tahan dan pak polisi sama sekali gak menjelaskan prosedur pembayarannya. Karena saya buru buru mau tes, saya langsung tancap gas lagi.

Beberapa hari setelahnya, setelah uang saya sudah terkumpul 500.000 hasil dari gak pernah jajan, saya pergi ke random BRI, nah bank BRI yang saya datangi ternyata gak bisa melayani tilang dan mbaknya bersikeras gak bisa ngelayani nafsu saya untuk membayar tilang. Dan mbaknya malah nyeletuk dengan judes “nyusah nyusahin aja sih mas, bayar tilang gini tu ribet, mendingan bayar di tempat mas sama polisinya”. Hhmmm, parah juga ternyata mental penghuni bangsa ini, mental penyogok.

Akhirnya saya menuju ke BRI Pattimura di daerah Johar yang katanya satu satunya BRI yang bisa ngurus tilang di seluruh Semarang. Di bank itu memang saya dilayani, dan disuruh membayar 500.00 sesuai denda maksimum. Setelah itu saya dikasih slip pembayaran dan harus difotocopi untuk di bawa ke polrestabes Semarang untuk mengambil STNK dan copy an satunya dibawa ke pengadilan setelah hari persidangan. Di pengadilan ini nantinya saya akan mendapat putusan tentang berapa saya harus membayar denda. Dan setelah itu bisa ke BRI lagi untuk mengambil sisa uang 500.000 yg saya setor tadi. Lah? Kok emang beneran ribet yah kayaknya, bikin aturan kok kayaknya prosedurnya njelimet banget. kalau sudah mengaku bersalah dengan meminta surat tilang biru, kenapa saya masih disuruh ke pengadilan lagi? Begitu yang ada di benak saya, tapi saya agak sedikit adem, karena teller di BRI Patimura ini ramah ramah, dan saya dapat bonus permen. J

Dari BRI saya langsung meluncur ke polrestabes Semarang. Tapi disana lagi lagi saya ditolak, kali ini sama pak polisi. Ternyata untuk mengambil STNK bukan di polrestabes tetapi di polsek semarang barat. Walaah lha piye to iki? Kok aku kayak diombang ambingkan di lautan  ketidakpastian. Pak polisi di polrestabes juga agak heran dan ngetawain keputusanku untuk membayar di BRI. “lha kok pake bayar di BRI segala to mas? Bukannya malah ribet to mas? Mending siding di tempat mas. Bayar ke polisi langsung di jalan. Langsung beres” “memang itu legal ya pak? Bayar di jalan terus lolos dari hokum?” takut bapak polisinya marah dia langsung tak tinggalkan dalam kebingungan mau jawab apa. Akhirnya saya ke polsek semarang barat dan mendapatkan kembali STNK saya. Satu lagi oknum yang menyarankan bayar di tempat. Ckckckck! Oke berarti tinggal 1 lagi misiku: mengambil sisa uang denda di BRI setelah dari pengadilan.

Setelah sekitar seminggu menunggu tanggal sidang, saya pergi ke pengadilan negeri untuk mengambil surat putusan jumlah denda yang harus saya bayar. Di tempat parkir saya langsung disergap para calo yang sangat bernafsu banget ingin melayani saya. Tapi saya memilih menuntaskan sendiri masalah saya ini, sekalian pengen ngerasain segala prosedur peraturan yang telah dibuat Negara tercinta ini. (aslinya aku gak punya cukup duit buat bayar calo sih, org duitnya masih di BRI semua 500.000 hehehheh!) saya bertanya ke seorang pegawai pengadilan “mas, kalau mau ambil putusan dimana ya? Saya sudah setor di BRI.” Mas pegawai itu sengak banget jawab “halah mas, ribet banget pake bayar di BRI segala, mending bayar langsung di jalan mas, langsung beres.” “maaf mas, saya tanya dimana saya bisa urus putusan tilang ini. Kalo masalah ribet biar saya yang pikirin, gak usah repot”. Ternyata tambah 1 lagi yang menyarankan bayar di tempat. Walaaaahh apa aku yang aneh dan salah ya kalau ingin menaati hukum yang berlaku? Bingung aku!

Setelah ditunjukin mas mas sengak tadi  saya langsung menuju ke ruang pidana. Aku agak lega, aku kira setelah ini akan beres dan bisa ngambil uang di BRI. Tapi…. Ternyata belum, di ruang pidana aku disuruh memfotokopi surat putusan itu lalu dibawa lagi kesitu. Huh, padahal aku gak tau dimana ada tukang fotokopi. Singkat cerita aku sudah kembali ke ruang pidana dengan 2 lembar kerta fotokopian. Wah ini pasti sudah selesai, batinku. “mas, setelah ini fotocopy an ini dibawa ke kejaksaan negeri ya untuk meminta kuitansi bukti denda putusan sidang.” Whaaaattt???!! Masih ada lagi??? Jujur aku gak tau dimana letak kejaksaan negeri itu. Akhirnya aku keluar ruangan dengan muka kusut. Dan mas mas yang sengak tadi ngetawain aku dengan senyum kemenangannya. “gimana mas? Ribet kan? Udah dibilangin mending bayar di tempat kok.” Aku mengalihkan pembicaraan “mas, kejaksaan negeri di mana ya?” dengan masih senyum nyebelin ma situ jawab “Itu mas di depan museum jawa tengah bunderan kali banteng. Besok lagi kalau ditilang bayar langsung aja mas” ini petugas Negara macam apa sih? Kok malah nyaranin cara yang illegal. “gak mas, besok lagi gak mau aku urusan sama polisi lalu lintas. Aku mau naik angkutan umum aja” aku jawab sekenanya. Setelah itu aku ke kejaksaan, dapat kuitansi denda sebesar 49.000 dan tanpa masalah trus langsung menuju BRI untuk mengklaim sisa uang yang tak titipin. Oh ya, di BRI aku harus beli materai 6000 untuk prosedur ngambil uang sisa. Dan uangku berhasil kembali 450.000.

Dari peristiwa di atas bisa saya simpulkan bahwa:

·        Oknum polisi jalan berlagak galak dan menekan anda supaya anda merasa bersalah

·        Beberapa  pegawai pemerintah banyak yang menyarankan untuk menyogok. Mungkin sudah terbiasa sehari hari kayak gitu.

·        Prosedur slip tilang biru lebih ribet dari slip merah (Cuma sidang, denda trus pulang) padahal slip biru artinya = mengakui kesalahan dan bersedia membayar denda, slip merah artinya = tidak mengakui kesalahan dan bersedia disidang.

Yak, sampai disini dulu cerita dan curhat saya bro, maaf kalau ada yang tersinggung, saya menulis ini berdasarkan cerita yang sebenarnya, tidak ditambahi tambahi atau dikurang kurangi. Wassalam!