Powered By Blogger

Kamis, 30 Juli 2026

My Light After the Dark


There was a time
when the night inside me
was deeper than the sky above.
Hope was only a forgotten word,
and tomorrow felt too far away.

Then you came.

Not like a storm demanding to be seen,
but like the quiet sunrise
that gently teaches the world
how to breathe again.

You never asked me
to become someone else.
You simply held my broken pieces
until they remembered
they belonged together.

You saved me
without ever asking for credit.
You loved me
when I struggled to love myself.
And somehow, your heart
became the place where mine
finally felt safe.

One year of marriage
may seem like only a chapter,
but to me,
it is the beginning of the life
I never believed I would have.

Every laugh we share,
every hand we hold,
every ordinary moment beside you
is a miracle I will never take for granted.

If I have a thousand lifetimes,
I will search for you in every one of them.
If the stars forget to shine,
I will still find my way
because your love
has become my brightest constellation.

Thank you
for choosing me,
for believing in me,
for saving me from the darkness
without even realizing
you became my light.

I loved you yesterday.
I love you today.
And with every heartbeat
that tomorrow brings,
I will love you
even more.


For my lovely wife Anggi Suhartini Siregar

Semarang, 30 Juli 2026

Selasa, 24 September 2024

Sembagi Arutala Nawasena

Perempuanku yang anggun nan tangguh

Di hatimu samudera bersimpuh

Di matamu senja berlabuh

Di luasnya kesabaranmu aku berteduh


Perempuanku yang lembut nan bersahaja

Di pelukmu rembulan bermanja

Di tatapanmu takdir raharja

Di sederhanamu aku menjadi raja


Perempuanku, engkaulah sembagi arutala nawasena



Sabtu, 10 Agustus 2024

SANDYAKALA BUMANTARA

Sangat sanskrit ya judulnya, wehehehe

Jadi itu adalah nama anak kami nanti kalau dipercaya Tuhan untuk memiliki. Aamiin.

Nama itu cukup sederhana tapi artinya dalam.

Sandyakala diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti gurat merah di langit senja. Jika diartikan per suku kata, San (baik, penghormatan, dan bakti), Dhya (pengetahuan, meditasi, atau refleksi), dan Kala (waktu, musim, dan kondisi).

Sedangkan Bumantara berasal dari bahasa sansekerta yang berarti awang awang atau angkasa. Bumantara juga sering dikatakan gabungan dari kata Bumi dan Antara, yakni sebuah kawasan yang terbentang antara samudra dan benua, yaitu angkasa.

Jadi kalo digabung bisa diartikan gurat merah senja di antara samudra dan benua, singkatnya warna jingga senja di angkasa.

Cukup sederhana, tapi jika kita memaknainya lebih dalam, warna senja di angkasa ini sangatlah filososfis. 

Warna senja yang indah dan menenangkan, mungkin hanya sejenak bisa kita nikmati, sebelum akhirnya semua gelap karena matahari tenggelam.

Ini menggambarkan singkatnya kita hidup di dunia, pepatah jawa bilang 'urip mung mampir ngombe'. Walaupun hidup di dunia ini hanya sementara, semoga singkatnya dunia itu bisa bermakna, indah baginya dan membuat semua orang disekitarnya ikut tenang, bahagia dan bersukacita. 

Meski kau hanya secercah jingga kecil di ujung hari, jangan berkecil hati, karena keindahan dan ketenangan senja adalah romantisme yang tak ada duanya. 


Semarang, 10 Agustus 2024




Rabu, 17 April 2024

Dear Enji

Another day passed by

Neither I nor her knew

God graced us with gifts

Goodness came afterward

In this dark cave, I rise.


Sings us a love song

Under the warm light

Happiness is in the air

Along the road we laugh

Rain won't even bother us

This one is special

In this very moment I believe once more

Nice person like you exists

I swear to God you are special


So, we care for each other

Inner child spread out

Rough day seems easy when we hold hands

Enji please be happy

Give me your brightest smile

A man will love you always

Right here, yes I am that very man.



Jumat, 29 Maret 2024

Judulnya apa?

 

Gundah Gulana Resah tak terkira. 

Ketakutan menjelma menjadi prahara saat malam tiba. 


Dipenghujung jalan kulihat secercah harapan. 

Datang membawa kehangatan. 


Akankah ini bertahan atau hancur lebur bersama puing puing kenangan. 


Entahlah. Saat ini aku menikmati, menggilai dan mengamini semua yg ada di dirimu, Wian.


Semoga kau bisa bertahan.

Panjang umur harapan dan kasih sayang. 


Disclaimer

Puisi ini dibuat dengan paksaan dan tekanan dri pihak yang bersangkutan. 


Kopeng, 4 Maret 2024.

Salam hangat, 


Enji

Sabtu, 20 Januari 2024

Aku masih ada


Aku pernah kalah
Aku pernah marah
Aku pernah hilang arah
Aku sempat musnah

Aku berjalan tanpa teman
Aku berjalan tanpa tujuan
Aku berjalan tanpa nyawa
Aku hanya daging tanpa hati

Aku sudah pergi
Aku sudah tak berarti
Aku sudah mati
Aku tak ingin kembali

Aku masih ada kesempatan
Aku masih ada masa depan
Aku masih ada harapan
Aku masih ada


Kamis, 18 Juli 2019

Refleksi diri

Selalu, disaat mata belum memejam, kuteringat semua hal yang terjadi sepanjang hari ini.
Jarang, akhir akhir ini aku mengingat hal hal bahagia, karena memang aku tidak.
Sering, yang kuingat adalah hal hal buruk yang yang terjadi, bahkan yang aku lakukan sendiri.
Kadang, kepada rekan kerja, atasan, bahkan Tuhan.

Pernah, suatu hari sebelum jam kerja usai, ku tak sengaja menginjak lantai yang barusan di pel oleh petugas, aku tersenyum bermaksud maaf tersungging, namun sang petugas menjatuhkan tongkat pel kecewa, dan berlalu. aku sadar, aku salah, aku selalu sadar betapa berat harinya membersihkan lantai yg sebentar di pel sebentar kotor diinjak konsumen, tiap hari bergumul dengan sampah yg bukan miliknya. Betapa berat hari harinya dituntut area tanggung jawabnya selalu sempurna, namun yang didapat tak setara. Betapa ia memikirkan keluarganya makan apa esok lusa. Maka bisa kutahan amarahku untuk membalas bantingan tongkat pelnya. Kudatangi ia, menjabat tangannya dan meminta maaf hingga ia balik menyunggingkan senyumnya. Aku pun lega.

Beberapa kali, ku tak sepemahaman dengan atasan, karna kuanggap mereka hanya memerintah, sembari menikmati hasil jerih payah bawahannya yang tiap hari mengecek tanggal habis kontrak. Setiap kebijakan yang berpotensi merugikan kaumku, kutebas habis, kadang dengan sikap garang dan sok membela yang lemah kumelawan. Namun aku sering menyesal seperti malam ini, karena terkadang ku kelewat batas dan cenderung menyakiti hati. Ia atasanku juga hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh atasannya lagi. Besok pasti suasana sudah seperti biasa lagi karena sisi baik atasanku ini memang tidak mendendam, setidaknya begitu yang ia perlihatkan. Namun hatiku sendirilah yang terkoyak, dengan penyesalan atas kelakuanku yang terkadang arogan dan mau menang sendiri. Saat di kantor, aku ingin terlihat sangar, garang, idealis dan pejuang, namun saat malam seperti ini, di kamar kos sunyi ini, aku hanyalah bocah kecil yang bertanya tanya, apakah aku orang baik? Apakah aku jahat? Apakah aku sudah menjadi manusia? Labil, Mungkin label itu cocok disematkan di diriku. Aku lemah saat sendiri, aku tak yakin, aku insecure. Keinsecure-an ku ini mungkin yang membuat aku merasa harus terlihat kuat di lingkungan pekerjaan. Sok kuat diluar padahal lembek dan rapuh didalamnya. Dasar aku.

Suatu kali, bahkan aku sangat arogan kepada Tuhan, aku mempertanyakan, apakah hidup ini adil ya Tuhan? Lihat saja adik kecil di tepi jalan itu, usia sekitar tiga, menjajakan koran untuk bisa bertahan hidup sehari lagi dimuka bumi. Lalu lihat di dalam mobil Alphard yg berhenti tepat didepannya, ada bocah usia lima yang mendapatkan segala apa yang dimintanya bahkan yang tak ia minta. Bersama sopir pribadi dan pengasuhnya, iapun bahagia karena ditemani pula oleh ayah ibunya yang sangat menyayanginya, bahagia dan sempurna. Sedang anak jalanan berusia tiga, kita tak tahu apa ibunya masih ada atau ia sebatang kara. Nasib manusia tidak bisa dipilah pilih, aku yang karyawan biasa mana bisa mengubah nasib anak yang kulihat ditepi jalan itu. Paling cuma bisa beli korannya dua.  

Tuhan, maafkan aku yang sering marah dan protes melihat ketidak adilan, bahkan aku lancang memprotesmu. Namun Aku tau pasti, bahwa kebijaksanaanMu melebihi akalku. Maka untuk membenahi diriku sendiri, kuanggap semua kejadian yang kualami seharian ini adalah caraMu berkomunikasi dengan ciptaanMu, supaya aku melihat, supaya aku memahami, supaya aku sadar bahwa ketidak adilan akan selalu ada, Namun dibalik itu semua, carilah kesempatan untuk mengakui kekurangan diri, mengambil pelajaran, mengevaluasi dan berbuat yang lebih benar dikemudian hari. Karena manusia harus terlebih dahulu adil kepada diri sendiri. 


WIAN ANGGONO
18 Juli 2019