Powered By Blogger

Kamis, 30 Juli 2026

My Light After the Dark


There was a time
when the night inside me
was deeper than the sky above.
Hope was only a forgotten word,
and tomorrow felt too far away.

Then you came.

Not like a storm demanding to be seen,
but like the quiet sunrise
that gently teaches the world
how to breathe again.

You never asked me
to become someone else.
You simply held my broken pieces
until they remembered
they belonged together.

You saved me
without ever asking for credit.
You loved me
when I struggled to love myself.
And somehow, your heart
became the place where mine
finally felt safe.

One year of marriage
may seem like only a chapter,
but to me,
it is the beginning of the life
I never believed I would have.

Every laugh we share,
every hand we hold,
every ordinary moment beside you
is a miracle I will never take for granted.

If I have a thousand lifetimes,
I will search for you in every one of them.
If the stars forget to shine,
I will still find my way
because your love
has become my brightest constellation.

Thank you
for choosing me,
for believing in me,
for saving me from the darkness
without even realizing
you became my light.

I loved you yesterday.
I love you today.
And with every heartbeat
that tomorrow brings,
I will love you
even more.


For my lovely wife Anggi Suhartini Siregar

Semarang, 30 Juli 2026

Selasa, 24 September 2024

Sembagi Arutala Nawasena

Perempuanku yang anggun nan tangguh

Di hatimu samudera bersimpuh

Di matamu senja berlabuh

Di luasnya kesabaranmu aku berteduh


Perempuanku yang lembut nan bersahaja

Di pelukmu rembulan bermanja

Di tatapanmu takdir raharja

Di sederhanamu aku menjadi raja


Perempuanku, engkaulah sembagi arutala nawasena



Sabtu, 10 Agustus 2024

SANDYAKALA BUMANTARA

Sangat sanskrit ya judulnya, wehehehe

Jadi itu adalah nama anak kami nanti kalau dipercaya Tuhan untuk memiliki. Aamiin.

Nama itu cukup sederhana tapi artinya dalam.

Sandyakala diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti gurat merah di langit senja. Jika diartikan per suku kata, San (baik, penghormatan, dan bakti), Dhya (pengetahuan, meditasi, atau refleksi), dan Kala (waktu, musim, dan kondisi).

Sedangkan Bumantara berasal dari bahasa sansekerta yang berarti awang awang atau angkasa. Bumantara juga sering dikatakan gabungan dari kata Bumi dan Antara, yakni sebuah kawasan yang terbentang antara samudra dan benua, yaitu angkasa.

Jadi kalo digabung bisa diartikan gurat merah senja di antara samudra dan benua, singkatnya warna jingga senja di angkasa.

Cukup sederhana, tapi jika kita memaknainya lebih dalam, warna senja di angkasa ini sangatlah filososfis. 

Warna senja yang indah dan menenangkan, mungkin hanya sejenak bisa kita nikmati, sebelum akhirnya semua gelap karena matahari tenggelam.

Ini menggambarkan singkatnya kita hidup di dunia, pepatah jawa bilang 'urip mung mampir ngombe'. Walaupun hidup di dunia ini hanya sementara, semoga singkatnya dunia itu bisa bermakna, indah baginya dan membuat semua orang disekitarnya ikut tenang, bahagia dan bersukacita. 

Meski kau hanya secercah jingga kecil di ujung hari, jangan berkecil hati, karena keindahan dan ketenangan senja adalah romantisme yang tak ada duanya. 


Semarang, 10 Agustus 2024




Rabu, 17 April 2024

Dear Enji

Another day passed by

Neither I nor her knew

God graced us with gifts

Goodness came afterward

In this dark cave, I rise.


Sings us a love song

Under the warm light

Happiness is in the air

Along the road we laugh

Rain won't even bother us

This one is special

In this very moment I believe once more

Nice person like you exists

I swear to God you are special


So, we care for each other

Inner child spread out

Rough day seems easy when we hold hands

Enji please be happy

Give me your brightest smile

A man will love you always

Right here, yes I am that very man.



Jumat, 29 Maret 2024

Judulnya apa?

 

Gundah Gulana Resah tak terkira. 

Ketakutan menjelma menjadi prahara saat malam tiba. 


Dipenghujung jalan kulihat secercah harapan. 

Datang membawa kehangatan. 


Akankah ini bertahan atau hancur lebur bersama puing puing kenangan. 


Entahlah. Saat ini aku menikmati, menggilai dan mengamini semua yg ada di dirimu, Wian.


Semoga kau bisa bertahan.

Panjang umur harapan dan kasih sayang. 


Disclaimer

Puisi ini dibuat dengan paksaan dan tekanan dri pihak yang bersangkutan. 


Kopeng, 4 Maret 2024.

Salam hangat, 


Enji

Sabtu, 20 Januari 2024

Aku masih ada


Aku pernah kalah
Aku pernah marah
Aku pernah hilang arah
Aku sempat musnah

Aku berjalan tanpa teman
Aku berjalan tanpa tujuan
Aku berjalan tanpa nyawa
Aku hanya daging tanpa hati

Aku sudah pergi
Aku sudah tak berarti
Aku sudah mati
Aku tak ingin kembali

Aku masih ada kesempatan
Aku masih ada masa depan
Aku masih ada harapan
Aku masih ada


Kamis, 18 Juli 2019

Refleksi diri

Selalu, disaat mata belum memejam, kuteringat semua hal yang terjadi sepanjang hari ini.
Jarang, akhir akhir ini aku mengingat hal hal bahagia, karena memang aku tidak.
Sering, yang kuingat adalah hal hal buruk yang yang terjadi, bahkan yang aku lakukan sendiri.
Kadang, kepada rekan kerja, atasan, bahkan Tuhan.

Pernah, suatu hari sebelum jam kerja usai, ku tak sengaja menginjak lantai yang barusan di pel oleh petugas, aku tersenyum bermaksud maaf tersungging, namun sang petugas menjatuhkan tongkat pel kecewa, dan berlalu. aku sadar, aku salah, aku selalu sadar betapa berat harinya membersihkan lantai yg sebentar di pel sebentar kotor diinjak konsumen, tiap hari bergumul dengan sampah yg bukan miliknya. Betapa berat hari harinya dituntut area tanggung jawabnya selalu sempurna, namun yang didapat tak setara. Betapa ia memikirkan keluarganya makan apa esok lusa. Maka bisa kutahan amarahku untuk membalas bantingan tongkat pelnya. Kudatangi ia, menjabat tangannya dan meminta maaf hingga ia balik menyunggingkan senyumnya. Aku pun lega.

Beberapa kali, ku tak sepemahaman dengan atasan, karna kuanggap mereka hanya memerintah, sembari menikmati hasil jerih payah bawahannya yang tiap hari mengecek tanggal habis kontrak. Setiap kebijakan yang berpotensi merugikan kaumku, kutebas habis, kadang dengan sikap garang dan sok membela yang lemah kumelawan. Namun aku sering menyesal seperti malam ini, karena terkadang ku kelewat batas dan cenderung menyakiti hati. Ia atasanku juga hanya menjalankan tugas yang diperintahkan oleh atasannya lagi. Besok pasti suasana sudah seperti biasa lagi karena sisi baik atasanku ini memang tidak mendendam, setidaknya begitu yang ia perlihatkan. Namun hatiku sendirilah yang terkoyak, dengan penyesalan atas kelakuanku yang terkadang arogan dan mau menang sendiri. Saat di kantor, aku ingin terlihat sangar, garang, idealis dan pejuang, namun saat malam seperti ini, di kamar kos sunyi ini, aku hanyalah bocah kecil yang bertanya tanya, apakah aku orang baik? Apakah aku jahat? Apakah aku sudah menjadi manusia? Labil, Mungkin label itu cocok disematkan di diriku. Aku lemah saat sendiri, aku tak yakin, aku insecure. Keinsecure-an ku ini mungkin yang membuat aku merasa harus terlihat kuat di lingkungan pekerjaan. Sok kuat diluar padahal lembek dan rapuh didalamnya. Dasar aku.

Suatu kali, bahkan aku sangat arogan kepada Tuhan, aku mempertanyakan, apakah hidup ini adil ya Tuhan? Lihat saja adik kecil di tepi jalan itu, usia sekitar tiga, menjajakan koran untuk bisa bertahan hidup sehari lagi dimuka bumi. Lalu lihat di dalam mobil Alphard yg berhenti tepat didepannya, ada bocah usia lima yang mendapatkan segala apa yang dimintanya bahkan yang tak ia minta. Bersama sopir pribadi dan pengasuhnya, iapun bahagia karena ditemani pula oleh ayah ibunya yang sangat menyayanginya, bahagia dan sempurna. Sedang anak jalanan berusia tiga, kita tak tahu apa ibunya masih ada atau ia sebatang kara. Nasib manusia tidak bisa dipilah pilih, aku yang karyawan biasa mana bisa mengubah nasib anak yang kulihat ditepi jalan itu. Paling cuma bisa beli korannya dua.  

Tuhan, maafkan aku yang sering marah dan protes melihat ketidak adilan, bahkan aku lancang memprotesmu. Namun Aku tau pasti, bahwa kebijaksanaanMu melebihi akalku. Maka untuk membenahi diriku sendiri, kuanggap semua kejadian yang kualami seharian ini adalah caraMu berkomunikasi dengan ciptaanMu, supaya aku melihat, supaya aku memahami, supaya aku sadar bahwa ketidak adilan akan selalu ada, Namun dibalik itu semua, carilah kesempatan untuk mengakui kekurangan diri, mengambil pelajaran, mengevaluasi dan berbuat yang lebih benar dikemudian hari. Karena manusia harus terlebih dahulu adil kepada diri sendiri. 


WIAN ANGGONO
18 Juli 2019

Rabu, 20 Maret 2019

Tuesday, March 19 2019, 23:37

Hello orang orang,

Aku capek, tapi gak bisa tidur. Aku mau nulis aja, tanpa konsep, biar mengalir aja, siapa tau aku ketiduran.

Kesibukanku sama kerjaan buatku terjebak diantara rasa capek dan rasa bosan. Hasilnya, tubuh pengen istirahat, tapi otak gak mau kerjasama, kebosanan membuat otakku liar. mikir kesana kemari jadinya gak tidur tidur.

Di segara pikirku tersebar jutaan angan dan pertanyaan, mungkin milyaran, yang tidak terkonsep, liar, terkadang bahkan aku sendiri kaget dengan apa yg kupikirkan. seperti misalnya aku pernah ngobrol dengan diriku sendiri di alam otakku.

Aku: "Hey Minime, pernahkah kamu berpikir, bahwa Bumi ini spesial sekali, satu bongkah batu angkasa yang bisa menghidupi berbagai makhluk. Dengan komposisi yang begitu pas antara air, udara, api, mineral dan segala zat yang terkandung didalamnya saling menyokong dan bersinergi secara seimbang menjadi tempat yang sempurna memungkinkan untuk makhluk makhluk bisa hidup di dalamnya, di permukaannya. Apakah ini kebetulan?"

Aku yg lain: "ha?"

Aku: "sedangkan jika kita tengok planet planet lain yg terdekat yg mampu manusia eksplore dengan segala keterbatasannya, gak ada yg sesempurna Bumi. Mendekati pun tidak. Apakah se spesial itu planet ini? Ada gak ya kira kira di luar sana, di luasnya tata surya, dengan pengetahuan manusia saat ini yg masih terbatas belum bisa menjangkaunya, planet lain yg bisa mengayomi makhluk makhluk seperti ibu pertiwi?"

Aku yang lain: "emmm..."

Aku: "aahh.. maaf, lagi lagi mikirku kejauhan. Aku sadar Minime, aku bukan siapa siapa, apakah aku berhak memikirkan hal seluas itupun aku tak tahu.. sebab aku bukan siapa siapa, aku yang berilmu rendah, bahkan pelajaran Matematika SMP tentang Aljabar dan Persamaan Linear pun ku sudah lupa, jika sekarang dikasih soal, pastilah tak bisa kukerjakan.."

Aku yang lain: "hmmm, iya"

Aku: "tapi boleh kan aku berpikir sejauh demikian di dalam segara pikirku sendiri, diruang pribadi ini didalam otakku sendiri, hanya denganmu minime? Yang penting tidak mengganggu orang lain"

Aku yang lain: "ya boleh aja sih, tapi, apa itu penting? Apa itu berguna bagi hidupmu yang nyata nyata ada dekat disini, yang hanya seorang buruh kecapekan susah tidur, yang selalu bingung besok sarapan pake apa?"

Aku: "nah itu yg tadi kutanyakan, kan? Apa aku berhak berpikiran seluas itu? Tapi melihat pendapatmu, aku ngerasa kaya ditarik kembali ke daratan. Yang tadinya seperti melayang layang kejauhan. Aku tersentak dan tersadar. Hidupku tidak signifikan jika dibanding dengan agungnya semesta. Hidupku cuma sebentar di Bumi pertiwi ini, apa yg bisa aku lakukan agar setidaknya bisa sedikit bermanfaat bagi semesta?"

Aku yang lain: "Cobalah berbuat baik pada semuanya, tidak perlu sekaligus, cukup dari yang terkecil dan terdekat. Berbuat baiklah dirimu sendiri dulu, pikirkan kesehatanmu, pikirkan kewarasanmu, pikirkan dulu dirimu, perbaiki satu satu, baik fisik dan psikismu. Ayo kita mulai dengan besok mau sarapan apa?"

Aku: "ih, iya kamu benar. Intinya berarti semua sesuai kapasitas nya masing2 dulu ya Me? Kalo mampumu segini yaudah nerimo aja itu diperbaiki sampai baik banget, nanti pasti akan meningkat sendiri levelnya. Gitu kan?"

Aku yg lain: "nah..!! Kui lo maksudnya aku... jadi besok mau sarapan apa...?"

Aku: "Tadi aku udah beli roti sobek di Alfamart, susu UHT yg kemarin juga masih. Jadi aman kan me?"

Aku yg lain: "good... my self, gitu donk.. jgn diulangi ya kesalahan kmrn dan tadi pagi yang lupa sarapan. Kamu boleh sibuk, kamu boleh ngayal sejauh apapun, tapi kamu harus sehat, kalo kamu mati? Sayang donk, gak bisa naik ke level selanjutnya donk untuk berpikir lebih luas lagi. wong waktumu di Bumi cuma sebentar.

Aku: "woiyo apik tenan, berarti saiki aku harus tidur Minime. Aku sayang kamu.. bye.."

Wednesday, March 20th 2019, 00:03




Selasa, 15 Mei 2018

Well, Im back motherf%#*er..

Hari ini aku libur kerja. kayak biasa, aku cuma ngisi waktu libur di kos dengan nyuci baju, tiduran, main HP garuk2 *#$^ hahahhaha..

Pas iseng buka2 google, sudut mataku gak sengaja ngeliat ada bookmark blogger. Yang sudah entah berapa tahun gak kusentuh...

Well, I'm back MotherFather.. hahahahah.. iseng dan gabut mulai deh pengen nulis lagi. Baiklah.. blog terakhir yang kutulis itu bulan Juni 2017. Setahun yang lalu.. (oh iua, itu pas lagi galau2nya bingung sama kerjaan baru. Jadi nulis puisi buat curhat) tapi sebelum itu terakhir kutulis personal blog itu tahun 2013. Woooww.. tentu banyak bgt perubahan dan perkembangan(?) dalam hidupku yaahh? Well.. ntar gua critain deh.

Mulai dari karir yah, terakhir tahun 2013 saat aktif ngeblog itu aku masih berstatus mahasiswa jurusan English and Literature di UKSW tercinta. Lulus dari situ aku udah kerja di 5 perusahaan berbeda mulai dari ug kecil sampe yg gede, mulai dari bidang pendidikan, transportasi, sampai sekarang nyangkut di perusahaan retail. Bah gak nyambung amat yak sama gelarnya..? Ahahhaha

Jadi aku tu abis lulus, nyari2 kerja kemana2 gak dapet2 sambil ngelesin2 part time gitu di salah satu lembaga pendidikan. Akhirnya setelah nunggu bulanan, aku diterima kerja di salah satu perusahaan transportasi negara sebagai karyawan kontrak, yaahh.. kontrak memang menyakitkan. Tapi gak papa, aku bersyukur atas pengalaman yg kidapat disana. setelah 2 tahun aku habis kontrak akhirnya aku dapet kerjaan di Surabaya, disono aku kerja sebagai guru les, karena mungkin gak cocok dan gak kerasan juga, aku akhirnya memutuskan untuk pulang ke Salatiga. Nganggur lagi deh.. gak lama aku akhirnya aku coba ngajar jadi guru SMP Swasta.. asik juga sih, bisa punya power gitu di kelas dan bisa berkreatif2 bikin materi ngajar yg gaul dan up to date. Tapi akhirnya aku tinggalkan SMP itu karena dpt tawaran kerja di salah satu perusahaan retail yg cukup besar berbasis di jawa barat. Aku ditempatkan di ketanggungan. ,(kalo gak tau lu bisa cari di gugelmap). Dan saya sudah setahun kerja disini. Nyaman kerja disini, byk ilmu yg didapat dan rekan2 kerja yg asyik bikin gua betah di tempat antah berantah ini (maaf warga ketanggungan, gak bisa nemu adjective lain untuk menggambarkan ketanggungan. Hehhehehe)

Lalu masalah Cinta, wahahhaha.. ini nih yang ditunggu2.... (eh iya gak sih...?😂)
Jadi setelah lulus, aku sempat pacaran serius dengan seorang adik angkatan. Yah tapi memang jodoh berkata lain, aku putus saat aku long distance di Surabaya. Memang kata org bener juga sih, jarak jauh itu kejam... trus sempet deket dg berbagai macam tipe wanita, mulai dari cewek solikhah, cewek tomboy, ada juga cewek indie, trus ada cewek baik2 polos banget (sampe gua kasian sendiri) tapi belum ada aja yg sreg di hati. Akhir2 ini gua lg deket sama cewek unyu kawaii gitu, dia emg suka jejepangan dan sempet ikut2an girlband2an gitu. Wahahahaha.. lucu deh pokoknya.. imut, rame, cute, warna warni gitu.. tapi masih deket aja sih.. belum apa apa.. yah jalanin aja dulu dan doain aja yg terbaik deh yah netizen.

Kayaknya cukup deh yaah. Udh ngantuk bgt nih.. maaf udah cerita random banget di blog ini.. intinya aku pengen nulis lagi deh untuk pelampiasan kesibukan kerja gua.. daripada scroll2 IG apa line today, mending escapenya yg beginian.. produktif, yaahh walaupun masih tetep konsisten dengan konten gak bermutu.. wahahhahaha... Well Im back MotherFather...

Minggu, 25 Juni 2017

The Path Thy Embrace

The tiny seed bloomed, so white and crude
Abundant of utopias, I cherished upon the root
Growing abstraction, hankering disposition
The tiny seed ameliorated, Thine dream cultivated

The paths were branching as the agony wrenching
The paths thy embrace came to the path thy neglected
Dont be too chimerical, because thy need to think more logical.
The path comes to the onliest, afterall thou needs to fight to the fullest


Wian Anggono, 772017

Rabu, 02 Oktober 2013

surat tilang slip biru malah bikin jadi ribet


Kamu pasti pernah ketilang sama polisi kan di jalan? Kalau belum, ya bagus deh, jangan sampai ketilang, serius! Sumpah!  Banyak yang bilang kalau  misalnya kamu diberhentikan dan kena tilang polisi di jalan, minta aja slip biru. Slip biru artinya mengakui kesalahan kamu dan bersedia membayar denda di bank bri. Tapi, apa benar prakteknya akan semudah itu? Nah, ini nih pengalamanku waktu kena tilang dan meminta slip biru serta prosedur pembayarannya.

Waktu itu di pertengahan september aku kena tilang di daerah banyumanik semarang. Aku sama temenku yang nebeng waktu itu mau ikut tes buat masuk sebuah perusahaan di daerah semarang. Kita jalannya santai aja, gak kenceng dan selalu berusaha mematuhi setiap rambu lalu lintas. Sial neraka bener singkat cerita udah ada polisi nangkring di atas motor yang nungguin di pinggir jalan di depanku, merasa gak bersalah, aku ngeloyor aja dengan tampang yang aku imut imutin. Ternyata aku dikejar sama satu polisi berperut gendut dan diberhentikan. Wah bingung donk aku, wong aku merasa gak ngelakuin salah apa apa. Pak polisi gendut itu entah kenapa nuduh aku ngelanggar lampu merah sambil marah marah dan maki maki gitu dengan tampang sok diserem seremin. Jujur dan sadar banget nih, waktu itu aku gak merasa ngelanggar lampu merah. Kalo gak percaya, tanya aja sama temenku yang tak boncengin. Setelah itu surat surat diminta dan kita digiring ke pos polisi. 

Di dalam pos polisi aku merasa di intimidasi banget ada dua polisi gendut yang ngomongnya pake marah marah bernada tinggi. Aku pun dengan sok tenang bilang "santai aja to pak, gak usah marah marah, saya juga ngomongnya baik baik kok." setelah aku ngomong gitu, baru si pak polisi berdua itu agak sedikit ramah, tapi tetep nyebelin sih tampangnya. Kayaknya itu memang cara oknum polisi itu supaya kita merasa bersalah. Nah di pos polisi itu aku terpaksa memutuskan untuk mengakui kesalahan yang sebenarnya tidak saya lakukan dan meminta surat tilang slip biru. Pak polisi itu agak gak setuju dan menakut nakuti kalau pake slip biru nanti harus bayar sebesar denda maksimal rp 500.000. “atau kalau pengen gak ribet kamu bisa ‘sidang ditempat’, nanti kamu kasih saya berapa terus saya lepasin.” Kata pak polisi satunya.

Pak polisi itu pun menekan saya supaya mau bayar di tempat, supaya gak ribet katanya. Tapi saya bersikeras, “wah gak mau saya pak, mending uang saya buat bayar negara aja. Gak apa apa 500.000 juga.” Setelah itu STNK saya di tahan dan pak polisi sama sekali gak menjelaskan prosedur pembayarannya. Karena saya buru buru mau tes, saya langsung tancap gas lagi.

Beberapa hari setelahnya, setelah uang saya sudah terkumpul 500.000 hasil dari gak pernah jajan, saya pergi ke random BRI, nah bank BRI yang saya datangi ternyata gak bisa melayani tilang dan mbaknya bersikeras gak bisa ngelayani nafsu saya untuk membayar tilang. Dan mbaknya malah nyeletuk dengan judes “nyusah nyusahin aja sih mas, bayar tilang gini tu ribet, mendingan bayar di tempat mas sama polisinya”. Hhmmm, parah juga ternyata mental penghuni bangsa ini, mental penyogok.

Akhirnya saya menuju ke BRI Pattimura di daerah Johar yang katanya satu satunya BRI yang bisa ngurus tilang di seluruh Semarang. Di bank itu memang saya dilayani, dan disuruh membayar 500.00 sesuai denda maksimum. Setelah itu saya dikasih slip pembayaran dan harus difotocopi untuk di bawa ke polrestabes Semarang untuk mengambil STNK dan copy an satunya dibawa ke pengadilan setelah hari persidangan. Di pengadilan ini nantinya saya akan mendapat putusan tentang berapa saya harus membayar denda. Dan setelah itu bisa ke BRI lagi untuk mengambil sisa uang 500.000 yg saya setor tadi. Lah? Kok emang beneran ribet yah kayaknya, bikin aturan kok kayaknya prosedurnya njelimet banget. kalau sudah mengaku bersalah dengan meminta surat tilang biru, kenapa saya masih disuruh ke pengadilan lagi? Begitu yang ada di benak saya, tapi saya agak sedikit adem, karena teller di BRI Patimura ini ramah ramah, dan saya dapat bonus permen. J

Dari BRI saya langsung meluncur ke polrestabes Semarang. Tapi disana lagi lagi saya ditolak, kali ini sama pak polisi. Ternyata untuk mengambil STNK bukan di polrestabes tetapi di polsek semarang barat. Walaah lha piye to iki? Kok aku kayak diombang ambingkan di lautan  ketidakpastian. Pak polisi di polrestabes juga agak heran dan ngetawain keputusanku untuk membayar di BRI. “lha kok pake bayar di BRI segala to mas? Bukannya malah ribet to mas? Mending siding di tempat mas. Bayar ke polisi langsung di jalan. Langsung beres” “memang itu legal ya pak? Bayar di jalan terus lolos dari hokum?” takut bapak polisinya marah dia langsung tak tinggalkan dalam kebingungan mau jawab apa. Akhirnya saya ke polsek semarang barat dan mendapatkan kembali STNK saya. Satu lagi oknum yang menyarankan bayar di tempat. Ckckckck! Oke berarti tinggal 1 lagi misiku: mengambil sisa uang denda di BRI setelah dari pengadilan.

Setelah sekitar seminggu menunggu tanggal sidang, saya pergi ke pengadilan negeri untuk mengambil surat putusan jumlah denda yang harus saya bayar. Di tempat parkir saya langsung disergap para calo yang sangat bernafsu banget ingin melayani saya. Tapi saya memilih menuntaskan sendiri masalah saya ini, sekalian pengen ngerasain segala prosedur peraturan yang telah dibuat Negara tercinta ini. (aslinya aku gak punya cukup duit buat bayar calo sih, org duitnya masih di BRI semua 500.000 hehehheh!) saya bertanya ke seorang pegawai pengadilan “mas, kalau mau ambil putusan dimana ya? Saya sudah setor di BRI.” Mas pegawai itu sengak banget jawab “halah mas, ribet banget pake bayar di BRI segala, mending bayar langsung di jalan mas, langsung beres.” “maaf mas, saya tanya dimana saya bisa urus putusan tilang ini. Kalo masalah ribet biar saya yang pikirin, gak usah repot”. Ternyata tambah 1 lagi yang menyarankan bayar di tempat. Walaaaahh apa aku yang aneh dan salah ya kalau ingin menaati hukum yang berlaku? Bingung aku!

Setelah ditunjukin mas mas sengak tadi  saya langsung menuju ke ruang pidana. Aku agak lega, aku kira setelah ini akan beres dan bisa ngambil uang di BRI. Tapi…. Ternyata belum, di ruang pidana aku disuruh memfotokopi surat putusan itu lalu dibawa lagi kesitu. Huh, padahal aku gak tau dimana ada tukang fotokopi. Singkat cerita aku sudah kembali ke ruang pidana dengan 2 lembar kerta fotokopian. Wah ini pasti sudah selesai, batinku. “mas, setelah ini fotocopy an ini dibawa ke kejaksaan negeri ya untuk meminta kuitansi bukti denda putusan sidang.” Whaaaattt???!! Masih ada lagi??? Jujur aku gak tau dimana letak kejaksaan negeri itu. Akhirnya aku keluar ruangan dengan muka kusut. Dan mas mas yang sengak tadi ngetawain aku dengan senyum kemenangannya. “gimana mas? Ribet kan? Udah dibilangin mending bayar di tempat kok.” Aku mengalihkan pembicaraan “mas, kejaksaan negeri di mana ya?” dengan masih senyum nyebelin ma situ jawab “Itu mas di depan museum jawa tengah bunderan kali banteng. Besok lagi kalau ditilang bayar langsung aja mas” ini petugas Negara macam apa sih? Kok malah nyaranin cara yang illegal. “gak mas, besok lagi gak mau aku urusan sama polisi lalu lintas. Aku mau naik angkutan umum aja” aku jawab sekenanya. Setelah itu aku ke kejaksaan, dapat kuitansi denda sebesar 49.000 dan tanpa masalah trus langsung menuju BRI untuk mengklaim sisa uang yang tak titipin. Oh ya, di BRI aku harus beli materai 6000 untuk prosedur ngambil uang sisa. Dan uangku berhasil kembali 450.000.

Dari peristiwa di atas bisa saya simpulkan bahwa:

·        Oknum polisi jalan berlagak galak dan menekan anda supaya anda merasa bersalah

·        Beberapa  pegawai pemerintah banyak yang menyarankan untuk menyogok. Mungkin sudah terbiasa sehari hari kayak gitu.

·        Prosedur slip tilang biru lebih ribet dari slip merah (Cuma sidang, denda trus pulang) padahal slip biru artinya = mengakui kesalahan dan bersedia membayar denda, slip merah artinya = tidak mengakui kesalahan dan bersedia disidang.

Yak, sampai disini dulu cerita dan curhat saya bro, maaf kalau ada yang tersinggung, saya menulis ini berdasarkan cerita yang sebenarnya, tidak ditambahi tambahi atau dikurang kurangi. Wassalam!

 

 

Rabu, 24 April 2013

My view toward Teacher, Teaching and Education

          “Teacher”, what comes to your mind when you hear the word “Teacher”? Some people will say that teacher is someone who teaches some students in a classroom. Some might say that teacher is someone that is so smart so that s/he is teaching the others. Or some people say that teacher is a hero without any service medal. Those statements are no wrong, but I have my own definition about teacher. For me “teacher is the front-liner of educational conflicts”, sounds ferocious, isn’t it? Why I said that teacher is the front-liner of educational conflict? There are two reasons that underlying my statement above. I said conflict because education has conflict inside it, especially in Indonesia. The first conflict is in the department and ministry of education itself. As you hear in every channel of news, Indonesian education is now very chaotic, for example: The decreasing of quality in National Examination, the late delivery of National Examination question and answer sheet, curriculum that always changes, corruptions of BOS money, until the idea of omitting English from elementary school. There are so many chaos and conflicts and teacher is the front-liner of it. The second conflict is more general, it is the conflict between the students and the lesson they learn.
            In this post I will focus more on the second conflict which is the conflict between the students and the lesson they learn. As I said in my introduction, I view that teacher is the front-liner of educational conflicts. So as the front liner, teacher should mediate the conflict between students and the lesson they learn. Teaching is not merely about giving a stand in front of the class, speak loudly, delivering the material on the book, and punish everyone who messes up in the class. it is not what teacher should be, so I come up with my second own philosophy which is “teaching is mediating the conflict between the students and the lesson they learn”. What does it mean by that? In my opinion, there is a gap between students and the lesson. And that's the teacher duty as the front-liner of educational system to connect the gap between the students and the lesson.  I know that teaching is not as simple as I thought before. I used to think that teaching is standing in front of the class, asking question, discussing some materials or delivering the materials, but after I got the real experience in teaching real students I realize that teaching is carrying the bigger responsibility to mediate the gap between the students and the lesson. There are so many way in mediating the students and the lesson. It can be by using game, using song, video, AVAs to make our teaching more interesting. It needs teacher creativity or else the students will not be connected to the lesson and the teacher will fail to mediate them both. So what is your opinion? Is it hard to be a teacher? Not only a teacher, but the front-liner of educational system. If I may say being a teacher is difficult and carrying so many responsibilities to the country and also to the students. So if someone out there said that “teacher is a hero without any service medal”, that’s very true!

AKU vs BUKU

Menurutmu apa itu buku? Saya sering dengar dari teman2 kalau buku itu adalah jendela dunia. Ada juga yang mengatakan kalau buku adalah sumber inspirasi dan ilmu. Semua itu benar, memang begitulah buku, saya tidak bisa mendebat lagi. Sialnya, saya dari kecil jarang baca buku. Sekalinya punya buku, itu semua buku paket pelajaran2 dan buku lks yang isinya gak menarik dan malah sering bikin pusing dan mules bahkan mencret hahhahhaha. Buku2 yg ada di perpustakaan SD pun buluk2 dan kadang sudah terlepas dari jilid-annya dan berserakan kemana2. Jadi illfil dan tambah males deh pedekate sama buku. Mulai dari itulah sudut pandangku terhadap buku mulai skeptical. Memang dari kecil orang tuaku juga jarang beli buku, selain mungkin menurut mereka itu bukan kebutuhan primer dan jarang banget ada toko buku di dekat rumahku, mungkin juga karena minat baca orang tuaku dulu belum hebat, mereka masih terlalu sibuk bekerja sebagai pasangan muda yg baru berumah tangga dan punya anak super imut kayak aku heheheh (pose chibi2). Jadi ya begitulah, masa kecilku luput dari perhatian dan peran buku2 yg katanya jendela dunia.  Mulai masuk SMP aku mulai dekat dengan buku, sialnya lagi buku yg deket sama aku waktu itu kurang berkualitas. Cuma buku2 komik jepang yg aku pinjem dari persewaan buku deket sekolah macam dragon ball, doraemon, kobo chan, sinchan dan bahkan sempat salah pinjem komik goldenboy (ups, wakakakakka). Yah begitulah, fase hidupku ini sudah berhasil mengenalkan aku sama buku yang kurang berkualitas dan satu buku ‘jorok’, tapi it’s OK at least aku udah kenal dulu sama buku.  Masuk SMA aku masih gak pernah beli buku kecuali buku2 paket erlangga, yudhistira dan buku2 LKS yang kadang malah jadi lahan bisnis sampingan para guru. aku dapat asupan nutrisi buku dari pinjeman sepupuku yang mengkoleksi buku lupus (lagi2 buku ringan). Disaat anak2 normal seumuranku mulai baca buku2 berkualitas karya penulis2 keren yang aku gak apal nama2 mereka karena kebanyakan kayak nama2 alien dari planet ‘saiya’. (dragonball logic. Hihihihi. maklum, jarang baca buku berkualitas), aku masih baca lupus dan seneng banget waktu itu karena ceritanya lucu dan banyak tokoh2 yg aneh disitu, cocok bgt sama aku yg kebetulan punya muka yang aneh juga. Mulai dari situ aku mulai suka baca lupus yang kupinjam 2 buku setiap minggu dari sepupu ku itu (bahkan ada beberapa buku lupus yg lupa belum kukembaliin sampai sekarang, hahahaha). Yah, pathetic memang hidupku di masa muda, masa kini juga dink. Masa sekarang juga masih jarang beli buku, buat jajan aja susah! (makanku banyak soalnya) tapi kalo sekarang banyak teman yg suka buku2 berkualitas, jadi aku bisa pinjem deh. Pinjem sana pinjem sini dapat ilmu dan inspirasi. Kadang juga dapat tamparan di pipi karena buku2 mereka sering jadi kusut karena aku bacanya sambil tiduran di rak piring. (hahahaha, salah satu guyonan lupus yg masih kuingat sampai sekarang). Bahkan karena kubaca sambil tidur, kadang buku2 mereka sering kena cairan bening kental yang berbau tajam, iler. (moga2 mereka gak baca posting ini, kalaupun baca, sorry teman2 baru berani bilang sekarang kalo buku kalian sering kena iler. Aku takut ditampar pipi lagi. Peace!(hahahah)
Aku suka buku? Iya! Aku seneng baca buku? Iya! Suka beli buku? I..iy…. enggak! Hahahaha.. Tapi entah kenapa, buku2 buat thesisku kok tidak semenarik buku2 yang kupinjem dari teman ya? Mungkin aku memang suka membaca, but reading for pleasure. Reading academically? Hmmmm?? Mungkin belum dapat panggilan hati. Intinya adalah, buku itu sumber inspirasi dan kebijakan pola berfikir manusia. Jadi, selagi muda adik adikku bacalah buku! Jangan tiru aku, karena itu hanya dikerjakan oleh para professional yg terlatih!!!

Kamis, 18 April 2013

morning glory

darkness,
that's all what I see
consciousness,
that's what I seek to be
is it a delusion or I have woken up from my reverie
this fraction of verve been haunting elongatedly
suffering sore as pale as hell, drowned utterly in a vicious agony
the sense of repeated misery come in me at your discretion like a mystery
force me to walk my ass off my delicateness numerously to the place I shouldn’t be
is it what is called divine decree?
I myself name it the excrement of  liquidity
mother hell as morning glory